• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

Sunday, June 18, 2017

Feminimisme : Perempuan Sama dengan Laki-laki?



Feminisme : Perempuan Sama dengan laki-laki? 
Oleh : Wina Nur Pradita (AKUNTANSI 2015)


       Wonder Woman. Tokoh fiksi superhero perempuan yang sedang hangat diperbincangkan. Lahir dan tumbuh dengan mengenal sosok laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai budak, tidak membuatnya berhenti berjuang bersama mereka dalam mengakhiri peperangan dan menciptakan perdamaian di dunia. Berkat cerita tersebut, tokoh fiksi ini sempat diangkat menjadi ambassador for empowering girls and women oleh United Nations dengan tujuan utama menantang stereotip perempuan dan memerangi diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan serta memperjuangkan persamaan hak perempuan dengan laki-laki. Hal ini merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap feminisme. 

    Feminisme sendiri adalah gerakan yang dimulai sejak abad ke-18 yang bertujuan untuk mendukung perempuan untuk berjuang memperoleh hak layaknya laki-laki demi tercapainya kesetaraan untuk hidup dalam keselarasan. Gerakan ini muncul karena adanya pendapat bahwa masyarakat dan tatanan hukum bersifat patriarki. Kedudukan perempuan yang selalu ditempatkan lebih rendah daripada laki-laki menyebabkan perempuan tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh haknya baik sebagai perempuan maupun sebagai manusia itu sendiri. Setelah melalui perjalanan panjang, gerakan feminisme cukup berhasil mencapai tujuannya. 

     Feminisme dalam perkembangannya mengalami banyak perubahan. Sayangnya perubahan ini cenderung melunturkan tujuan dari feminisme itu sendiri. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, feminisme seharusnya mendukung perempuan untuk berjuang memperoleh hak layaknya laki-laki. Namun, sekarang ini feminisme cenderung beranggapan bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama. Perempuan sama dengan laki-laki. Padahal memperoleh hak perempuan layaknya laki-laki dengan menjadi sama dengan laki-laki adalah dua hal yang berbeda. 

     Feminisme seharusnya menekankan bahwa kesempatan yang dimiliki perempuan sama besarnya dengan kesempatan yang dimiliki laki-laki. Bukan menjadikan perempuan itu sama dengan laki-laki, karena pada dasarnya pun perempuan dan laki-laki itu diciptakan berbeda. Menjadi berbeda, bukan berarti batasan bagi perempuan untuk mendapatkan haknya. Bukan berarti pula, dengan berbeda itu membuat perempuan harus menjadi sama atau berlomba-lomba melebihi laki-laki. Menjadi berbeda tidak menempatkan posisi perempuan lebih rendah dan begitu pula menyamai dan melebihi laki-laki pun tidak menjadikan posisi perempuan lebih tinggi. Perbedaan yang kita miliki bukanlah sesuatu yang harus diperlombakan, melainkan sesuatu untuk saling melengkapi.

     Munculnya pemikiran perempuan dan laki-laki adalah sama membuat tidak sedikit perempuan berlomba-lomba untuk menjadi lebih. Hingga akhirnya, feminisme tidak lagi berbicara mengenai hak. Kesuksesan, kekayaan dan pengakuan masyarakat dianggap tolak ukur utama feminisme saat ini. Sibuk adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Keinginan, ego dan ambisi membuat perempuan lupa bahwa, mereka lebih dari itu. Perempuan dan laki-laki diciptakan berbeda. Itu lah yang membuat masing-masing memiliki kelebihan. Salah satu kelebihan perempuan adalah kesempatan yang dimilikinya untuk menjadi seorang ibu. Bukankah menjadi seorang ibu adalah hal yang paling menakjubkan? Sekitar 40.000 orang di 102 non-speaking English countries memilih kata “Mother” sebagai kata yang memiliki makna paling indah. Dari hadist riwayat Bukhari dan Muslim, ada sesorang yang mendatangi Rasulullah dan bertanya kepada siapa harus berbakti pertama kali dan Rasul menjawab ibumu sebanyak 3 kali dan ayahmu sebanyak 1 kali. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun seperti istilah “Ladies first”, Mother’s day, International Women’s day, transportasi publik khusus wanita, dan masih banyak lagi membuktikan bahwa menjadi perempuan adalah hal yang indah. Lalu untuk apa berlomba-lomba menjadi sama atau lebih dari laki-laki saat perempuan sudah punya posisinya sendiri? 

     Perempuan memang tidak sama dengan laki-laki. Tapi keduanya sama-sama memiliki hak yang harus dipenuhi. Memang tidak mudah untuk memenuhinya, tapi kita sama-sama punya peran di dalamnya. Bukan sebagai helper tapi partner. Karena feminisme bukan hanya untuk perempuan, tapi juga untuk laki-laki dalam memberi kesempatan dan menghargai bahwa perbedaan yang kita punya bukan untuk membedakan atau menyamakan. Tapi untuk saling mendukung dan melengkapi. 

Referensi : 
https://www.theguardian.com/world/2016/dec/12/wonder-woman-un-ambassador-gender-equality 
https://www.prageru.com/ 
http://www.telegraph.co.uk/news/1477484/Mother-is-the-most-beautiful-word.html

0 comments:

Post a Comment

Artikel Opini

Feminimisme : Perempuan Sama dengan Laki-laki?

Hubungi Kami

Silahkan pilih melalui platform di bawah ini


Kesekretariatan

Gedung L lt.2, Universitas Trisakti Kampus A, Grogol, Jakarta Barat

Official LINE@

@uri2115o | BPHMJ-AK TRISAKTI

E-mail

bphmjaktrisakti@yahoo.co.id